Mendampingi dan melayani Suami memang sudah menjadi tanggung jawab dari seorang isteri. Bisa selalu berkumpul dengan suami tentu menjadi harapan dan dambaan bagi setiap isteri. Namun harapan itu tidaklah sesuai dengan kenyataan bagi para wanita yang tergabung dalam organisasi Persatuan Isteri Tentara (Persit) Kartika Chandra Kirana. Isteri Prajurit harus selalu siap jika sewaktu-waktu ditinggal suami pergi bertugas dalam jangka waktu yang lama.

Persit Kartika Chandra Kirana adalah suatu Organisasi yang merupakan Wadah bagi para isteri Prajurit TNI-AD. Organisasi ini bertujuan untuk membina para isteri Prajurit untuk senantiasa siap serta mampu mengemban tugas Pokok sebagai Ibu Rumah Tangga disamping senantiasa memberikan dorongan dan semangat bagi suami di dalam menjalankan tugasnya sebagai Bhayangkari Negara. Bahkan menurut cerita dan catatan sejarah para pendahulu kita, pada masa Revolusi merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dulu, peran para isteri Prajurit dalam mendukung suami mereka berjuang sangatlah berat dan tidak bisa dianggap enteng. Mereka bertugas sebagai Dapur Umum, yakni memasak atau menyiapkan kebutuhan logistik (makanan dan minuman) bagi para Prajurit di suasana perang. Bahkan banyak diantaranya yang karena situasional turun tangan membantu suaminya mengangkat senjata mengusir penjajah, memberikan pertolongan kepada para Prajurit/Pejuang yang terluka dan adapula yang dilibatkan dalam tugas spionase sebagai mata-mata untuk mengetahui keberadaan dan kekuatan musuh. Maka tak jarang isteri-isteri Prajurit yang kala itu gugur sebagai Kusuma Bangsa demi merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Semua Tugas tersebut dilaksanakan dengan penuh keikhlasan semata demi bhakti serta pengabdian mereka kepada suami dan demi Negara Indonesia yang dicintai. Di masa alam Kemerdekaan kini Organisasi Persit KCK semakin tumbuh dan berkembang mengikuti perubahan jaman. Dalam organisasi ini para isteri Prajurit mendapatkan banyak bekal ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang harus dimiliki oleh mereka untuk menjalankan tugas utamanya sebagai Ibu Rumah Tangga dan mendukung tugas suami sebagai Prajurit, baik pengetahuan tentang Organisasi, etika dan pergaulan, juga keterampilan memasak, tata busana, industri rumah tangga, Olah Raga, kesehatan keluarga, dan lain-lain. Hal ini sangat dirasakan manfaatnya bagi anggota Persit terlebih di kala mereka ditinggal suami melaksanakan Penugasan Operasi dalam rentang waktu yang cukup lama baik enam bulan bahkan lebih dari satu tahun.

Salah satu contoh pengalaman pribadi yang pernah Penulis dapatkan tentang lika-liku kehidupan sebagai seorang isteri Prajurit adalah berawal dari Pernikahan kami pada Sembilan Tahun yang lalu. Menikah dengan seorang Prajurit membawa Konsekuensi bagi saya yakni secara Otomatis menjadi anggota Persit KCK. Suatu kehormatan dan kebanggaan bagi saya pribadi dan semua isteri Prajurit tentunya bersuamikan Prajurit Pelindung Negara yang sejatinya adalah merupakan contoh dan tauladan di mata masyarakat Indonesia di manapun berada dan bertugas. Memasuki kehidupan yang baru sebagai isteri Prajurit membawa banyak perubahan dalam hidup saya. Kehidupan yang tentu sudah tidak sebebas saat saya masih Gadis Remaja yang bisa belajar, sekolah, bekerja di manapun dan pergi kemanapun dengan sesuka hati. Dalam lingkungan yang baru ini segala sesuatunya di atur mulai dari cara berbicara, berpakaian, merias diri, besikap dan bertingkah laku sesuai dengan etika yang berlaku di lingkungan Ksatrian  atau pergaulan dalam Asrama Tentara. Pada awalnya terasa berat, namun dengan penuh kesabaran baik suami maupun sesama rekan isteri Prajurit selalu membimbing dan mengarahkan saya hingga lama kelamaan saya bisa menyesuaikan diri dengan hal itu. Terlebih lagi saya sadar bahwa segala aturan dan etika yang diterapkan itu bermaksud untuk menjaga kehormatan diri, suami, keluarga serta Kesatuan di mana kita bertugas tentunya.

Salah satu Konsekuensi dari isteri Prajurit adalah siap ditinggal tugas oleh suami. Saya sadari hal itu bukanlah hal yang mudah dan cukup berat. Dan hal yang paling saya takutkan itupun pada akhirnya terjadi juga. Setelah menikah saya mengikuti suami bertugas di Kesatuan Tempur di wilayah perbatasan RI-RDTL. Suami berangkat melaksanakan tugas operasi dalam tempo satu tahun lamanya dan ia berangkat tugas di kala saya sedang mengandung anak pertama kami di usia kandungan yang baru 4 bulan. Gundah Gulana menghantui pikiran saya, resah gelisah dan tidak jelas yang saya rasakan saat itu. Tak pernah terbayangkan oleh saya harus hidup tanpa ada suami di sisi, hidup di perantauan yang jauh dari Orang Tua di Jakarta sana, tinggal di Asrama baru yang jauh dari keramaian kota, listrik belum ada, air pun sulit di dapat, hanya suara canda tawa anak-anak serta isteri para Prajurit di siang hari dan suara jangkrik serta lolongan anjing yang menemani saya di malam hari nan sunyi. Di situlah pribadi dan mental kami sebagai anggota Persit KCK ditempa di tengah segala keterbatasan sarana dan prasarana namun hal itu justeru menguatkan semangat kesatuan dan persatuan serta kekeluargaan di antara kami sesama anggota Persit. Semangat kekeluargaan dan kegotong-royongan itulah yang menguatkan hati dan menghibur kami di kala suami pergi ke medan tugas selama satu tahun lamanya. Kami senantiasa saling berbagi cerita dan berkeluh-kesah dan saling tolong-menolong, bantu-membantu bersama-sama jika ada salah satu orang saja yang mengalami kesusahan. Pada masa itu kebetulan pangkat dan jabatan suami saya sebagai Perwira juga membawa konsekuensi yang sangat berat bagi saya dan isteri-isteri perwira lainnya, karena secara otomatis dalam Organisasi Persit saya harus mengemban tugas sebagai Ketua Ranting Persit KCK yang harus mampu memimpin, membina dan mengarahkan serta membantu kesulitan yang di alami oleh isteri-isteri anggota dalam kesehariannya. Kehidupan yang jauh dari suami kami isi dengan hal-hal positif dan bermanfaat seperti Olah Raga, memasak bersama, kegiatan ibadah dan pengajian, rekreasi bersama, melaksanakan kegiatan Pos Yandu bagi ibu-ibu hamil dan anak balita, Pengarahan atau pertemuan resmi untuk sosialisasi hal-hal penting atau informasi aktual lainnya dan lain-lain. Di samping saya juga tetap menanggung beban hidup seorang diri di kala mengandung Puteri tercinta kami yang ditinggal tugas ayahnya. Dan syukur Alhamdulillah berkat perlindungan dan rahmat Allah SWT, dilandasi dengan keikhlasan dan tekad kami untuk berbakti dan setia kepada suami serta mengabdikan diri kami sepenuhnya dalam organisasi Persit KCK, segala kesulitan yang kami alami dapat terselesaikan dan terlewati semua dengan selamat. Tepat di bulan ke Lima saat suami masih bertugas, lahirlah Puteri pertama kami dengan sehat walafiat tak kurang satu apapun berkat Pertolongan Allah SWT melalui uluran tangan Para Perwira dan Prajurit unsur tinggal yang tidak turut serta dalam tugas Operasi (karena ditugaskan menjaga Ksatrian dan keluarga Prajurit lainnya), Ibu-Ibu Persit KCK baik Ibu ketua Cabang, para pengurus Persit maupun isteri-isteri anggota yang selalu setia mendampingi saya di masa-masa sulit itu. Pada bulan ke – Empat Belas atau tepatnya setelah Setahun Dua Bulan suami saya kembali dari medan tugas, suasana haru bercampur riang gembira dan bahagia mewarnai hati kami para anggota Persit yang ditinggal tugas suami selama setahun lebih dan kebahagiaan suami dan diri saya pun menjadi lengkap karena telah mendapatkan anugerah momongan seorang puteri yang cantik, sehat dan pintar dari Allah SWT. Dan seiring berjalannya waktu saat ini suami tengah bertugas di Kesatuan Lembaga Pendidikan Militer untuk mencetak/mendidik Para Calon Perwira penerus perjuangan bangsa, di Kota Bandung. Memang benar..“Roda pasti berputar” tak selamanya kami bertugas di tempat terpencil yang penuh kenangan pahit getir namun sangat manis dirasa saat ini. Kebahagiaan kamipun bertambah lengkap setelah lahir Putera Kedua kami nan cerdas dan gagah perkasa di kota Kembang ini. Mungkin inilah hadiah yang tak ternilai harganya dari Tuhan atas Doa, keikhlasan dan pengorbanan kami demi menjalankan tugas serta pengabdian sebagai Prajurit dan pendamping Prajurit.

Merupakan suatu kebanggaan dan pengalaman luar biasa yang takkan pernah terlupakan dan mungkin tidak banyak wanita yang mengalaminya, menjadi seorang isteri Prajurit Penjaga kedaulatan Negara, menjadi pemicu semangat serta keikhlasan kami dalam mendorong Suami ke Medan Juang, untuk Nusa dan Bangsa. Hiduplah Persit Kartika Chandra Kirana untuk selama-lamanya. Kami bangga bisa menjadi bagian dari Jiwa Ragamu Prajurit Kesatriaku, Maju terus pantang mundur demi Indonesiaku.

 

Bandung,    Januari 2017

Penulis

Ny. Adri Asmara Yudha

(Wakil Ketua Persit KCK Ranting 3 Yonsisreg 2 Cabang IV PCBS Secapaad)