Sejarah Organisasi

PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA
PENGURUS PUSAT

logo

SEJARAH SINGKAT
PERSATUAN ISTRI PRAJURIT ( PERSIT )
KARTIKA CHANDRA KIRANA

Organisasi istri prajurit TNI AD Persit Kartika Chandra Kirana yang pada awalnya bernama Persatuan Kaum Ibu Tentara ( PKIT ), lahir di tengah-tengah perjuangan bangsa Indonesia yang dijiwai semangat dan cita-cita luhur untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Meskipun pada saat itu belum memiliki wadah yang nyata dalam bentuk organisasi, tetapi para istri prajurit baik perseorangan maupun kelompok telah berhasil memberikan dorongan semangat kepada para prajurit untuk meneruskan perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Lahirnya organisasi istri prajurit bukanlah karena anjuran atau perintah dari Komandan Badan Keamanan Rakyat/Tentara Keamanan Rakyat (BKR/TKR), tetapi karena didorong oleh kesadaran yang timbul di kalangan istri prajurit sebagai pendamping suami yang sedang berjuang menegakkan dan mempertahankan proklamasi kemerdekaan bangsanya.
Di daerah Jawa Barat, BKR/TKR yang kemudian menjadi TNI AD menghadapi banyak ancaman karena daerah itu merupakan

salah satu sasaran utama. Markas Komandemen TKR Jawa Barat yang berkedudukan di Purwakarta menjadi pusat kegiatan pengerahan prajurit. Prajurit yang berangkat ke garis depan diatur disini, demikian pula para prajurit yang kembali dari pertempuran. Bahkan mereka yang gugur dirawat dan dimakamkan di Purwakarta. Komandan Komandemen pada saat itu adalah Mayor Jenderal Didi Kartasasmita dan Kepala Stafnya adalah Kolonel Hidayat.
Kenyataan yang dihadapi pada saat itu sangatlah menyentuh hati nurani. Banyak pasien terlantar di RS Purwakarta karena tempat di rumah sakit tidak cukup lagi menampung banyaknya prajurit yang luka-luka dari medan pertempuran di daerah sekitar Bogor, Garut, Bekasi, Karawang, Tambun dan Cileungsi. Sarung bantal, seprei dan selimut tidak ada. Prajurit yang saat itu gugur di medan juang dimandikan bukan dengan sabun melainkan dengan daun-daunan dan dikafani dengan kain bagor (karung). Prajurit yang dirawat sangat membutuhkan dorongan moril. Kenyataan inilah ditambah dengan rasa kemanusiaan dan sifat keibuan telah menimbulkan inisiatif di hati Ny. Ratu Aminah Hidayat (isteri dari Kolonel Hidayat, Kepala Staf Komandemen I) untuk mengumpulkan para istri perwira Markas Komandemen I di kediamannya.

Kediaman Kolonel Hidayat waktu itu terletak dekat sebuah danau kecil di daerah Purwakarta. Dalam pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 3 April 1946 tersebut dihadiri oleh 4 orang rekannya yaitu Ny. Sumarna, Ny. Achmad Sukarnawijaya, Ny. Dana Kusumah dan Ny. Gerda Mokoginta. Pada kesempatan itu, Ibu Ratu Aminah Hidayat mengutarakan pemikiran dan hasratnya untuk menggerakkan para Istri Prajurit melakukan sesuatu guna membantu prajurit di dalam melaksanakan tugasnya.

Dalam pertemuan tersebut, belum ditentukan siapa yang menjadi ketua, sekretaris, bendahara dan lainnya sebagaimana lazimnya pembentukan suatu organisasi. Namun sejak itulah para istri prajurit yang berdomisili di Purwakarta mulai memikirkan untuk membentuk suatu wadah bagi kelompok istri prajurit yang kemudian dinamakan Persatuan Kaum Ibu Tentara (PKIT) yang adalah cikal bakal Persit Kartika Chandra Kirana. Pada waktu yang hampir bersamaan, di Purwokerto, Jawa Tengah lahir pula organisasi Persatuan Istri Tentara yang diketuai oleh Ny. Soehardi. Demikian juga di Malang, organisasi yang sama lahir dan diketuai oleh Ny. SR. Lasmindar.

Untuk menghadapi tantangan perjuangan yang semakin berat, maka pada tanggal 15 Agustus 1946 PKIT mengadakan konferensi di Garut, Jawa Barat guna mempersatukan organisasi-organisasi istri tentara yang ada di daerah-daerah.

Dalam konferensi tersebut dibahas masalah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Saran dari utusan Banjar Ny. Hamara Effendi tentang perubahan nama organisasi yang semula PKIT diubah menjadi Persatuan Istri Tentara (Persit). Selanjutnya kegiatan Persit semakin meningkat seiring dengan perkembangan organisasi TNI AD.

Dalam periode 1947 kegiatan para istri prajurit semakin meluas. Hal itu terjadi karena adanya gerakan-gerakan pihak lawan yang terus-menerus mengadakan serangan terhadap perjuangan Republik Indonesia. Para istri prajurit melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuannya, oleh karena itu di samping menjahit dan membuat

tanda-tanda pangkat pejuang, mereka melakukan kegiatan sebagai juru rawat dalam Palang Merah Indonesia. Para istri prajurit memberikan perawatan dan pertolongan kepada pejuang yang luka atau gugur di medan bakti. Selain itu, ada juga yang mendapat tugas menyelidiki kekuatan dan lokasi musuh, suatu tugas yang tidak ringan dan penuh dengan resiko tertangkap oleh pihak lawan. Dalam periode ini pimpinan organisasi istri prajurit di daerah Aceh dipimpin oleh Ny. Salamah Hussein Yusuf, Ny. Cut Anjung, Ny. Husin Setia, dan Ny. Bachtiar Sabirin.

Selanjutnya guna membangun soliditas organisasi, penyelenggaraan konferensi dilaksanakan secara berkesinambungan, dan memakai nama Kongres, mulai dari :
1. Kongres I tahun 1950 di Semarang
2. Kongres II tahun 1951 di Bandung
3. Kongres III tahun 1953 di Denpasar, Bali
4. Kongres IV tahun 1955 di Yogyakarta
5. Kongres V tahun 1958 di Malang
6. Kongres VI tahun 1960 di Magelang
7. Kongres VII tahun 1963 di Jakarta
8. Kongres VIII tahun 1964 di Jakarta, merupakan kongres darurat yang dipimpin oleh Ny. A. Yani istri Menpangab selaku Ketua Umum DPP Persit.
9. Pada Kongres IX tahun 1967, ditetapkan lambang Persit Kartika Chandra Kirana yang merupakan hasil karya Mayor Caj Tranggono. Kemudian istilah Kongres berubah menjadi Rapat

Kerja dan sejak tahun 1978 istilah Rapat Kerja diganti menjadi Musyawarah Pusat (Mupus) yang diadakan setiap 5 tahun sekali hingga tahun 2015, dengan adanya dinamika, waktu Musyawarah Pusat XI Persit Kartika Chandra Kirana ditetapkan menjadi 3 tahun sekali.
Pada tahun 1962 ditetapkan Hymne dan Mars Persit Kartika Chandra Kirana yang diciptakan oleh A. Tampubolon.

Dalam perjalanan sejarahnya Persit Kartika Chandra Kirana pernah menerbitkan majalah Mekar pada tahun 50-an namun tidak diketahui pasti kelanjutan penerbitannya hingga akhirnya menghilang. Tahun 1983 Persit Kartika Chandra Kirana kembali menggiatkan media penerangan kepada anggotanya melalui penerbitan majalah Kartika Kencana yang berlangsung hingga saat ini.

Pada tanggal 7 Juli 1967, atas prakarsa Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana yang pada saat itu dijabat oleh Ibu Siti Hartinah Soeharto, didirikan Yayasan Kartika Jaya yang secara khusus mengelola aset organisasi terutama sekolah-sekolah milik Persit Kartika Chandra Kirana. Kala itu masing-masing yayasan berdiri dan dijabat secara fungsional oleh Ketua dan Wakil Ketua Persit Kartika Chandra Kirana di masing – masing tingkat kepengurusan daerah, gabungan dan cabang berdiri sendiri. Tahun 1996, atas prakarsa Ny. R. Hartono, Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana dan dibantu oleh sebuah tim yang diketuai Ibu Agum Gumelar, kedudukan Yayasan Kartika Jaya yang dikelola oleh PD, PG dan PCBS dilebur ke dalam satu wadah tunggal dengan nama Yayasan Kartika Jaya yang langsung berada di bawah naungan Persit Kartika Chandra Kirana Pengurus Pusat. Sejak 16 Februari 2005, seiring dengan ketentuan UU RI No 16 tahun 2004 tentang yayasan maka jabatan Ketua dan Wakil Ketua Yayasan tidak lagi dijabat secara fungsional oleh Ketua dan Wakil Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana dan selanjutnya Yayasan Kartika Jaya menjadi badan hukum yang berdiri sendiri.

Pada tanggal 2 April 2002, atas prakarsa Ny. Andy E. Sutarto selaku Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana, didirikan Yayasan Yatim, Yatim Piatu “Kartika Asih” pada tanggal 2 April 2002. Yayasan ini khususnya memberikan beasiswa bagi putra-putri prajurit yang gugur di dalam melaksanakan tugas, sebagai wujud kepedulian dan rasa tanggung jawab Persit Kartika Chandra Kirana terhadap masa depan generasi penerus bangsa.

Pada tanggal 10 Januari 2007, Kasad Jenderal TNI Djoko Santoso selaku Pembina Utama Persit Kartika Chandra Kirana meresmikan “Wisma Kartika” sebagai kantor Persit Kartika Chandra Kirana Pengurus Pusat. Di samping itu diresmikan pula Balai Keterampilan Kartika dan Griya Kebugaran Kartika.

Demikian sejarah singkat Persit Kartika Chandra Kirana sejak kelahirannya pada tanggal 3 April 1946 hingga saat ini.

Nama-nama Ketua Umum yang pernah memimpin organisasi Persit Kartika Chandra Kirana adalah :

1. Ny. A.H. Nasution
( 27 Oktober 1950 – 8 Desember 1951 )
2. Ny. Sahusilawane
( 8 Desember 1951 – 28 Desember 1952 )
3. Ny. Bambang Supeno
( 28 Desember 1952 – 20 Desember 1953 )
4. Ny. R.A. Tahir
( 20 Desember 1953 – 20 April 1955 )
5. Ny. Hj. R. Omon Abdurachman
( 20 April 1955 – 18 Juli 1955 )
6. Ny. Sukaswo
( 18 Juli 1955 – 28 Januari 1958 )
7. Ny. E. Dachyar
( 28 Januari 1958 – 14 Januari 1961 )
8. Ny. R.A. Tahir
( 14 Januari 1961 – 24 April 1963 )
9. Ny. S.R. Lasmindar
( 24 April 1963 – 12 Desember 1964 )
10. Ny. A. Yani
( 12 Desember 1964 – 17 Juni 1966 )
11. Ny. Tien Soeharto
( 17 Juni 1966 – 30 Juni 1967 )
12. Ny. M. Panggabean
( 30 Juni 1967 – 12 Januari 1970 )
13. Ny. Umar Wirahadikusumah
( 12 Januari 1970 – 3 April 1973 )
14. Ny. Surono
( 3 April 1973 – 14 Mei 1974 )
15. Ny. Makmun Murod
( 14 Mei 1974 – 30 Januari 1978 )
16. Ny. Widodo
( 30 Januari 1978 – 17 April 1980 )
17. Ny. Poniman
( 17 April 1980 – 14 Maret 1983 )
18. Ny. Rudini
( 14 Maret 1983 – 1 Juli 1986 )
19. Ny. Try Sutrisno
( 1 Juli 1986 – 24 Pebruari 1988 )
20. Ny. Edi Sudradjat
( 24 Pebruari 1988 – 10 April 1993 )
21. Ny. Wismoyo Arismunandar
( 10 April 1993 – 13 Pebruari 1995 )
22. Ny. R. Hartono
( 13 Pebruari 1995 – 13 Juni 1997 )
23. Ny. Uga Wiranto
( 13 Juni 1997 – 23 Pebruari 1998 )
24. Ny. Afifah Subagyo Hadisiswoyo
( 23 Pebruari 1998 – 2 Desember 1999 )
25. Ny. Titik Tyasno Sudarto
( 2 Desember 1999 – 18 Oktober 2000 )
26. Ny. Andy E. Sutarto
( 18 Oktober 2000 – 6 Juni 2002 )
27. Ny. Nora Ryamizard
( 6 Juni 2002 – 25 Pebruari 2005 )
28. Ny. Angky Djoko Santoso
( 25 Pebruari 2005 – 31 Desember 2007 )
29. Ny. Diana Agustadi Sasongko Purnomo
( 31 Desember 2007 – 11 Nopember 2009
30. Ny. Hj. Nur George Toisutta
( 11 Nopember 2009 s.d. 7 Juli 2011 )
31. Ny. Kiki Pramono Edhie Wibowo
( 7 Juli 2011 s.d. 23 Mei 2013 ).
32. Ny. Koes Moeldoko
( 23 Mei 2013 s.d. 2 September 2013)
33. Ny. Wanti Budiman
( 2 September 2013 s.d. 25 Juli 2014 )
34. Ny. Nenny Gatot Nurmantyo
( 25 Juli 2014 s.d. 15 Juli 2015 )
35. Ny. Sita Mulyono
( 15 Juli 2015 s.d. sekarang )

 

Jakarta, 3 April 2016
Ketua Umum

Ny. Sita Mulyono